nothing.

Friday, March 11, 2011

PELUK

Menahun, kutunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini kuberharap dimengerti
Walau sekali saja pelukmu

Tiada yang tersembunyi
Tak perlu kau mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku

Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus kau berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dantak layak kau didera

Sadari diriku kini pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau lepas semuanya

Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Dan kini kuberharap dimengerti
Walau sekali saja pelukmu
........

Mengapa kulakukan ini? Karena inilah jalannya.
Hati adalah air, baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompatan indah, berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirmya terpisah dalam amarah. Cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun hatiku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh lagi hujan itu. Lebih dari apapun.
Kamu bukan tisu sekali pakai. Kamu tak akan kubuang dari memoriku begitu saja. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan kamu, kita, dan waktu yang telah bergulir selama ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir. Namun kata-kata membeku di ujung mulutku, seperti stalaktit dan stalagmit. Tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.

0 comments: